![]() |
Senin, 13 Maret 2023
Pelukis.
Selasa, 07 Maret 2023
Senja
Sosok senja hari.
Oleh. Mario Valentinus Tanik.
*
Hembusan angin di senja hari membuat halaman rumahku terasa sejuk. Aku mendengar suara teriakan anak Jangkrik yang terus berteriak tentang seseorang yang menghampiri rumah ku dan mencoba untuk memandang sekitar halaman rumah yang penuh dengan bunga yang memberi aroma yang memanjakan pada setiap pengunjung.
**
Sore itu kira-kira pukul 16:34. Aku masih berbaring hingga tak sadar dan ponsel selulerku berbunyi dan memecahkan kesunyian di senja hari. Teriakan anak Jangkrik kembali terdengar hingga sudut kamarku dan memberi tanda seolah-olah tak ada penghuni pada rumah ini. Di senja hari yang teduh hentakan kaki kembali melangkah dan bunyi dedaunan yang terinjak mulai terdengar di jalan dekat halaman rumah ku.
***
Aku kaget...Aduh! Perlahan aku mulai menoleh dan membidik melalui gorden yang sedikit terbuka pada sudut jendela, lalu memandang tersipu pada sosok yang kulihat di senja hari. Tuhan!! Sontak aku sadar dan terus memandang pada sosok pemberani yang kulihat pada senja hari. Dia memandang sekitarnya dan memberanikan diri untuk membuka. Aku masih diam terpaku, malu dan terus menahan pandangan ku untuk tetap memandangnya hingga aku melihat lengan kanannya mulai tergerak untuk menyimpan secarik surat di senja hari.
****
Sejuk angin di senja hari terus melambai pada pepohonan tua, dan bunga-bunga yang mekar di pagi hari yang kian layu pada senja yang teduh mulai terlihat. Hangatnya tubuh di senja hari mulai terkikis oleh dingin. Guyuran dedaunan berterbangan tanpa arah dan jatuh pada sosok yang kulihat di depan halaman rumahku. Aku masih berdiam diri dikamar dan terus menerus menoleh pada sosok di senja hari. Kelopak mataku kembali terpejam karena seekor nyamuk nakal mencoba untuk mencicip darahku di senja hari. Aku sadar...lalu tersenyum pada sosok itu....Lagi-lagi aku memandang lengan sosok itu yang terus bergerak sambil mencari sesuatu yang dipegangnya. Dia rapih, cantik, manis dan rambutnya bergelombang, dan aku mencium aroma harum yang melintasi sudut kamarku.
*****
Aku tersipu malu memandang Sosok di senja hari. Aroma yang bukan dari semerbak bunga di halaman rumah, membuat aku jatuh pada senja hari. Dia sosok di senja yang cantik, indah,manis,dan menawan hingga membuat ku termenung di senja hari. Dia polos seperti senja yang datang dengan keindahan dan memanjakan mata pada guyuran pemandangan di senja hari. Aku takut! Aku gelisah!... Itu pikiran ku di senja hari yang sentak membuatku bingung untuk menyapa sosok senja hari. Aku khawatir dengan keindahan senja hari, lalu aku menangis dan perlahan ku membuka mata untuk terus memandang sosok itu. Tuhan aku takut, aku gelisah... Pada sosok di senja hari. Aku bertanya pada anak Jangkrik yang terus menangis mencari induknya di senja hari. Mengapa aku takut pada sosok menawan yang kulihat pada senja, hingga anak Jangkrik itu terus berteriak seolah-olah tak ada yang menolongnya. Lalu aku teringat mengapa aku takut pada sosok di senja hari, karena aku tak mau dia hilang bersama senja yang indah, yang hanya sesaat lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan kenangan di senja hari.
Besikama, 8 Maret 2023.
Selasa, 28 Februari 2023
Tua
Bangunan tak terhuni, dikikis kesunyian dengan palma pada ambang pintu.
Orang-orang kembali bercerita tentang palma yang sepih tetapi gedung tua itu tetap kokoh. Kesunyian diusung pergi oleh teriakan orang-orang tentang Raja yang datang.... "HOSANA PUTERA DAUD".......
Gubuk tua itu kembali sepih hingga lorong kosong itu mengusap air mata akan sepih citranya.
Secarik Puisi
Mimpi
Oleh. Mario Valentinus Tanik.
Mimpi kembali terpampang dalam angan. Angan yang selalu mimpi bersama sejuta harapan dan yang menggerogoti jiwa hingga berjalan bersama untuk menerobos sumsum dan melukai daging hingga dosa. Daging yang enggan membengkak meninggalkan bekas hangat pada mimpi yang kelam tentang “dia” di malam itu. Semuanya tentang mimpi. Mimpi yang belum sadar dari birahi dosa dan terus berkobar pada tubuh yang lemah hingga teriaknya akan dosa. Hening di hulu kembali terpecah oleh teriak pada mimpi. Sejuta kata tentang mimpi terus terhimpit oleh orang yang lemah dan mencoba sadar dari mimpi.
Senin, 21 Maret 2022
Sasatra_Poem.
“EKARISTI DALAM MIMPI’’
Oleh. Valentino Mario Tanik
Beranjak dari ranjang, Enggan melangkah
Sujudku untuk tubuhmu. Pada puncak sertamu.
Masih kelabu untuk kurapal ; Saya Berdosa.
Entah mengapa langkah derap kembali mencabar dan
Sahut menyahut pada persiapan pesta ; memecah sunyi.
Seolah-olah Amin-ku kembali berhenti dan
Menatap aksa hingga ke hulu.
Dan teriakan harsa berujung pada
Mari Makanlah Roti!
Senin, 07 Maret 2022
Puisi
Puisi_ Valentinus Mario
Sajak pahlawan dalam senja sudah rimpuh, dan seolah mimpi membara. Meratap seperti pertiwi, hingga mereka yang dulu terus berjuang. Di Pelataran sepi, sunyi mencabar cerita kemarin sudah hilang bersama darah dan nyawah.
Hingga di ujung bambu tajam anak negri
kembali menelah musuh. Ibu pertiwi kembali tersenyum, senja kemarin sudah
lama pamit.
Sajak pahlawan untuk anak negri yang
tersenyum untuk Indonesia raya. Berlumuran darah demi bumi pertiwi, dan anak
negri terus tersenyum. Teriakan harsa untuk tanah tumpa darah dan hari kemarin
adalah cerita. Dimana segerombolan anak negri lagi-lagi bercucuran darah hingga
nyawa kembali terbayar.
Dengan teriakan anak negeri akan kemerdekaan. Senja kemarin sudah digusur pergi pada rahim pertiwi dan menatap aksa hingga ke hulu. Securut kemerdekaan pada wajah mereka, kini putus di kaki lembah akan cerita bersejarah
Dan masih
berani untuk anak negri kembali berteriak akan kemerdekaan tanah bangsa. Hingga
teriakan harsa berujung pada rahim pertiwi.
Budaya Baru
Budaya Salam di Masa Pandemi
Mario Valentinus
Tanik
Orang Asia umumnya dikenal dan dihormati karena budaya sopan santun.
Karakter kuat kesantunan ini biasanya terlihat dari cara mereka memberi salam.
Dari Jepang tempat matahari terbit, hingga negeri seribu pulau Indonesia, cara
memberi salam menyekolahkan kesantunan.
Di Indonesia budaya yang paling dijunjung tinggi sebagai salah satu rasa memberi
hormat pada siapa saja adalah budaya salam. Dari generasi ke generasi, etika salam
sudah dilestarikan, karena budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi
persaudaraan-kekeluargaan. Di Indonesia,
kebiasaan memberikan salam merupakan suatu hal yang melekat pada
masing-masing pribadi dimana saat bertemu orang yang lebih tua ataupun teman
sebaya dan bahkan orang asing sekalipun, memberikan salam seperti sebuah
kewajiban.
Pada umumnya memberikan salam merupakan ciri yang menunjukkan kepedulian
antar-pribadi dalam hidup bermasyarakat. Selain menjadi karakter peduli
antar-pribadi, budaya salam juga menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.
Rasa hormat ini, memang jika dievaluasi secara singkat, agaknya mudah. Akan
tetapi, tidak semua orang di bumi ini meyakini bahwa budaya salaman memberi
dampak yang cukup melebar dari sekadar sebuah interaksi awal. Ketika orang yang
sama sekali asing menghampiri lingkungan kita, kadang ada rasa curiga, minder,
takut, dan enggan menyapa atau mengulurkan tangan. Hal ini, hemat saya, semakin
terlihat di masa pandemi ini.
Kenyataan bahwa budaya salaman mulai meredup gamblang terlihat di masa
pandemi. Ketika pandemi menekan laju seluruh lini kehidupan manusia di seluruh
pelosok bumi ini, budaya salaman pun ikut dikekang. Salaman serasa menjadi hal
tabu. Anda salaman, Anda siap-siap terinfeksi virus mematikan. Jangankan
salaman, berkerumun dengan jarak yang tak seharusnya, seseorang dengan
sendirinya akan dihantui ketakutan berkepanjangan – ada semacam sistem kontrol
yang secara otomatis dikelola dalam pikiran. Semenjak virus korona melakukan
manuver dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, budaya salaman mulai dihilangkan.
Tak ada lagi rangkulan, pelukan, berjabatan tangan, apalagi menyapa sambil
terbahak-bahak. Hal-hal demikian pelan-pelan dihilangkan dan wajib ditiadakan.
Di masa sekarang, budaya salaman sendiri menjadi suatu
hal yang menakutkan bagi semua orang. Saat ini berjabatan tangan mulai
dihindari karena diyakini bisa menularkan virus
corona. Ketika budaya salaman dengan berjabatan tangan dan merangkul itu
dihilangkan karena alasan kesehatan, pola komunikasi santun pun ikut luntur
dengan sendirinya. Ketika semua diberi jarak, ada rasa anti-sosial yang
terlihat. Memberi jarak salaman sama halnya dengan tak memberi salam. Dengan
kata lain, menolak berjabatan tangan atau merangkul sama artinya dengan menolak
keakraban. Dari upaya penolakan ini, budaya sopan santun bisa jadi ikut
“dinodai.”
Budaya salaman tentunya tak hanya luntur dalam ilustrasi percakapan atau
perkenalan biasa. Jika saya masuk dalam kelompok tertentu, tentu hal pertama
yang saya dapatkan sebagai ungkapan penerimaan adalah salaman. Di sana, saya
tak hanya diterima sebagai sebuah anggota baru dalam kelompok tersebut, tetapi
juga ada nilai pendidikan sopan santun yang saya diterima. Edukasi kesantunan
ini kemudian bisa menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk meneruskan hal
yang kepada orang lain.
Di lingkup hidup keagamaan, budaya salaman juga hampir tak lagi diminati.
Saat sesi tertentu dalam Perayaan Ekaristi, umat Kristiani yang semulanya
merangkul dan berjabatan tangan, kini semuanya diganti dengan senyuman. Hal ini
membuat karakter solidaritas sebagai bagian dari kesatuan Gereja ditangguhkan
untuk sementara. Orang asing dalam Gereja pun bisa jadi muncul hanya karena
kebiasaan salaman ini diberi jarak. Mengenai ini, Gereja tentunya memiliki
pedomaan khusus terkait tata gerak liturgi saat menyampaikan salam damai. Dalam
Dokumen Konstitusi Suci Sacrosanctum
Concillium budaya salaman dilestarikan dengan pembiasaan mengulurkan
tangan. Kekuatan-kekuatan bunyi dokumen ini, hemat saya tetap dipenjara oleh
protokol penanganan Covid-19, yakni menjaga jarak.
Lalu apa yang bisa dibuat terkait pelestarian budaya salaman ini? Hemat
saya, pendidikan budaya salaman melalui literasi mampu menyadarkan setiap orang
mengenai pentingnya salaman. Karakter kesenatunan ini sejatinya perlu dijaga
agar tak luntur hanya karena munculnya pandemi Covid-19. Dalam budaya literasi,
seseorang bisa membagikan cara-cara bersalaman, nilai-nilai positif dari
kebiasaan salaman, dan berusaha memberi edukasi terkait masalah-malsalah yang
muncul ketika budaya salaman ini dihilangkan. Budaya literasi saat menjadi
salah satu sarana potensial bagaimana pesan dan pendidikan tetap disalurkan di
masa pandemi Covid-19.
Gerimis
"Gerimis Januari" Oleh. Mario Valentinus Tanik Gemercik kelabu, redup berbisik. Layu dan basah hingga menyelimuti daksa. Rayuan...
-
Sosok senja hari. Oleh. Mario Valentinus Tanik. * Hembusan angin di senja hari membuat halaman rumahku terasa sejuk. Aku mendeng...
-
"Gerimis Januari" Oleh. Mario Valentinus Tanik Gemercik kelabu, redup berbisik. Layu dan basah hingga menyelimuti daksa. Rayuan...
-
" Aku Bukan dari Rahimnya" Valentinus Mario Di dalam kegelapan malam yang sunyi, Aku berdiri dengan hati yang hampa, Bukan da...



