Senin, 13 Maret 2023

Pelukis.


        Pelukis di bulan Maret. 
Oleh. Mario Valentinus Tanik.


Hujan gerimis di bulan Maret
 sekali lagi muncul, menghampiri pemilik cerita di bulan yang sama. Detak jantung, pikiran, dan imajinasiku berhenti berfungsi, terputus di kaki lembah. Hingga gerimis bergerak sejak sore tiba, menyapaku di bulan Maret dengan ciuman hangat saat aku mengingat namanya. 
Dia adalah seorang pelukis yang terampil, keahliannya melukis cerita tentang penampilannya di bulan Maret. Inilah awal ceritaku bersama sang pelukis.
 
#
 
Pada hari itu, hari pertama aku mengingat namanya. Dia adalah Ros, pelukis di bulan Maret. Namanya memberikan sejuta cerita melalui lukisannya yang terpampang di ingatan setiap orang. Seorang pelukis terampil yang meninggalkan kenangan, terpatri pada lembaran baru di bulan Maret. Sosok di bulan Maret itu terus mendorongku untuk menulis, dan terus menulis cerita hidupnya yang masih terpantul di wajahku. Sebuah pena terus menari di lembaran baru, seolah-olah namanya adalah puisi yang harus kutulis.
 
 
Aku... Riven. Orang-orang memanggilku dengan nama itu. Namun, melihat hal itu, aku merasa malu ketika teman sebayaku memanggil nama desaku, "Ama". Ama adalah sebutan untuk seorang pria di desaku. Mengingat sebutan yang melekat pada bibir-bibir yang polos itu, aku merasa tak berdaya. Aku adalah pemuda desa yang lahir dan bertambah tua di desaku. Oh..! semuanya masih tentang pelukis di bulan Maret. Dia adalah sosok yang kukenal dengan julukan 'pelukis' dalam setiap kata orang-orang di desaku. Dia lahir sebagai wanita terhebat yang melukis cerita hidup unik di bulan Maret.
 
Sore itu, ibuku memintaku untuk mengantarkan vas bunga mawar kepada pelukis di bulan Maret. Aku beranjak dari rumah menuju tempat yang dibisikkan oleh ibuku di telinga kiriku. Aku masih menyimpan bisikan itu rapi di ingatanku, sampai senyum manis terus memancar di wajahku dan tidak memudar sama sekali meski suara keras mesin penggilingan padi Paman Andi. Di persimpangan menuju tempat itu, aku mencoba mengingat bisikan ibuku. Oh..! ternyata aku masih mengingatnya dengan baik seperti doa yang diajarkan oleh nenekku di senja hari.


Selasa, 07 Maret 2023

Senja


   

 Sosok senja hari. 

Oleh. Mario Valentinus Tanik.

 

 

*

Hembusan angin di senja hari membuat halaman rumahku terasa sejuk. Aku mendengar suara teriakan anak Jangkrik yang terus berteriak tentang seseorang yang menghampiri rumah ku dan mencoba untuk memandang sekitar halaman rumah yang penuh dengan bunga yang memberi aroma yang memanjakan pada setiap pengunjung. 


**

Sore itu kira-kira pukul 16:34. Aku masih berbaring hingga tak sadar dan ponsel selulerku berbunyi dan memecahkan kesunyian di senja hari. Teriakan anak Jangkrik kembali terdengar hingga sudut kamarku dan memberi tanda seolah-olah tak ada penghuni pada rumah ini. Di senja hari yang teduh hentakan kaki kembali melangkah dan bunyi dedaunan yang terinjak mulai terdengar di jalan dekat halaman rumah ku. 


*** 

Aku kaget...Aduh! Perlahan aku mulai menoleh dan membidik melalui gorden yang sedikit terbuka pada sudut jendela, lalu memandang tersipu pada sosok yang kulihat di senja hari. Tuhan!!  Sontak aku sadar dan terus memandang pada sosok pemberani yang kulihat pada senja hari. Dia memandang sekitarnya dan memberanikan diri untuk membuka. Aku masih diam terpaku, malu dan terus menahan pandangan ku untuk tetap memandangnya hingga aku melihat lengan kanannya mulai tergerak untuk menyimpan secarik surat di senja hari. 


****

Sejuk angin di senja hari terus melambai pada pepohonan tua, dan bunga-bunga yang mekar di pagi hari yang kian layu pada senja yang teduh mulai terlihat. Hangatnya tubuh di senja hari mulai terkikis oleh dingin. Guyuran dedaunan berterbangan tanpa arah dan jatuh pada sosok yang kulihat di depan halaman rumahku. Aku masih berdiam diri dikamar dan terus menerus menoleh pada sosok di senja hari. Kelopak mataku kembali terpejam karena seekor nyamuk nakal mencoba untuk mencicip darahku di senja hari. Aku sadar...lalu tersenyum pada sosok itu....Lagi-lagi aku memandang lengan sosok itu yang terus bergerak sambil mencari sesuatu yang dipegangnya. Dia rapih, cantik, manis dan rambutnya bergelombang, dan aku mencium aroma  harum yang melintasi sudut kamarku. 


*****

Aku tersipu malu memandang Sosok di senja hari. Aroma yang bukan dari semerbak bunga di halaman rumah, membuat aku jatuh pada senja hari. Dia sosok di senja yang cantik, indah,manis,dan menawan hingga membuat ku termenung di senja hari. Dia polos seperti senja yang datang dengan keindahan dan memanjakan mata pada guyuran pemandangan di senja hari. Aku takut! Aku gelisah!... Itu pikiran ku di senja hari yang sentak membuatku bingung untuk menyapa sosok senja hari. Aku khawatir dengan keindahan senja hari, lalu aku menangis dan perlahan ku membuka mata untuk terus memandang sosok itu.  Tuhan aku takut, aku gelisah... Pada sosok di senja hari. Aku bertanya pada anak Jangkrik yang terus menangis mencari induknya di senja hari. Mengapa aku takut pada sosok menawan yang kulihat pada senja, hingga anak Jangkrik itu terus berteriak seolah-olah tak ada yang menolongnya. Lalu aku teringat mengapa aku takut pada sosok di senja hari, karena aku tak mau dia hilang bersama senja yang indah, yang hanya sesaat lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan kenangan di senja hari.



Besikama, 8 Maret 2023.


Selasa, 28 Februari 2023

Tua


Bangunan tak terhuni, dikikis kesunyian dengan palma pada ambang pintu.

Orang-orang kembali bercerita tentang palma yang sepih tetapi gedung tua itu tetap kokoh. Kesunyian diusung pergi oleh teriakan orang-orang tentang Raja yang datang.... "HOSANA PUTERA  DAUD".......

Gubuk tua itu kembali sepih hingga lorong kosong itu mengusap air mata akan sepih citranya. 

Secarik Puisi


                                     Mimpi
 
        Oleh. Mario Valentinus  Tanik.

 

Mimpi kembali terpampang dalam angan. Angan yang selalu mimpi bersama sejuta harapan dan yang menggerogoti jiwa hingga berjalan bersama untuk menerobos sumsum dan melukai daging hingga dosa. Daging yang enggan membengkak meninggalkan bekas hangat pada mimpi yang kelam tentang “dia” di malam itu. Semuanya tentang mimpi. Mimpi yang belum sadar dari birahi dosa dan terus berkobar pada tubuh yang lemah hingga teriaknya akan dosa. Hening di hulu kembali terpecah oleh teriak pada mimpi. Sejuta kata tentang mimpi terus terhimpit oleh orang yang lemah dan mencoba sadar dari mimpi. 
 

Senin, 21 Maret 2022

Sasatra_Poem.

 



“EKARISTI DALAM MIMPI’’

Oleh. Valentino Mario Tanik 

Beranjak dari ranjang, Enggan melangkah

Sujudku untuk tubuhmu. Pada puncak sertamu.

Masih kelabu untuk kurapal ; Saya Berdosa.

Entah mengapa langkah derap kembali mencabar dan

Sahut menyahut pada persiapan pesta ; memecah sunyi.

Seolah-olah Amin-ku kembali berhenti dan

Menatap aksa hingga ke hulu.

Dan teriakan harsa berujung pada

Mari Makanlah Roti!

 

 

Senin, 07 Maret 2022

Puisi

                                    

 



 “Sudah tua ibu pertiwi”

Puisi_ Valentinus Mario

Sajak pahlawan dalam senja sudah rimpuh, dan seolah  mimpi membara. Meratap seperti pertiwi, hingga mereka yang dulu terus berjuang. Di Pelataran sepi, sunyi mencabar cerita kemarin sudah hilang bersama darah dan nyawah.  

Hingga di ujung bambu tajam anak negri kembali menelah musuh.  Ibu pertiwi kembali tersenyum, senja kemarin sudah lama pamit.

Sajak pahlawan untuk anak negri yang tersenyum untuk Indonesia raya. Berlumuran darah demi bumi pertiwi, dan anak negri terus tersenyum. Teriakan harsa untuk tanah tumpa darah dan hari kemarin adalah cerita. Dimana segerombolan anak negri lagi-lagi bercucuran darah hingga nyawa kembali terbayar.

Dengan teriakan anak negeri akan kemerdekaan. Senja kemarin sudah digusur pergi pada rahim pertiwi dan menatap aksa hingga ke hulu.  Securut kemerdekaan pada wajah mereka, kini putus di kaki lembah akan cerita bersejarah 

Dan masih berani untuk anak negri kembali berteriak akan kemerdekaan tanah bangsa. Hingga teriakan harsa berujung pada rahim pertiwi.

 

                                               

 

                      

 

 

                      

 


Budaya Baru

 





Budaya Salam di Masa Pandemi

Mario Valentinus Tanik

       



Orang Asia umumnya dikenal dan dihormati karena budaya sopan santun. Karakter kuat kesantunan ini biasanya terlihat dari cara mereka memberi salam. Dari Jepang tempat matahari terbit, hingga negeri seribu pulau Indonesia, cara memberi salam menyekolahkan kesantunan.

Di Indonesia budaya yang paling dijunjung tinggi sebagai salah satu rasa memberi hormat pada siapa saja adalah budaya salam. Dari generasi ke generasi, etika salam sudah dilestarikan, karena budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi persaudaraan-kekeluargaan. Di Indonesia,  kebiasaan memberikan salam merupakan suatu hal yang melekat pada masing-masing pribadi dimana saat bertemu orang yang lebih tua ataupun teman sebaya dan bahkan orang asing sekalipun, memberikan salam seperti sebuah kewajiban.

Pada umumnya memberikan salam merupakan ciri yang menunjukkan kepedulian antar-pribadi dalam hidup bermasyarakat. Selain menjadi karakter peduli antar-pribadi, budaya salam juga menunjukkan rasa hormat kepada orang lain. Rasa hormat ini, memang jika dievaluasi secara singkat, agaknya mudah. Akan tetapi, tidak semua orang di bumi ini meyakini bahwa budaya salaman memberi dampak yang cukup melebar dari sekadar sebuah interaksi awal. Ketika orang yang sama sekali asing menghampiri lingkungan kita, kadang ada rasa curiga, minder, takut, dan enggan menyapa atau mengulurkan tangan. Hal ini, hemat saya, semakin terlihat di masa pandemi ini.

Kenyataan bahwa budaya salaman mulai meredup gamblang terlihat di masa pandemi. Ketika pandemi menekan laju seluruh lini kehidupan manusia di seluruh pelosok bumi ini, budaya salaman pun ikut dikekang. Salaman serasa menjadi hal tabu. Anda salaman, Anda siap-siap terinfeksi virus mematikan. Jangankan salaman, berkerumun dengan jarak yang tak seharusnya, seseorang dengan sendirinya akan dihantui ketakutan berkepanjangan – ada semacam sistem kontrol yang secara otomatis dikelola dalam pikiran. Semenjak virus korona melakukan manuver dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, budaya salaman mulai dihilangkan. Tak ada lagi rangkulan, pelukan, berjabatan tangan, apalagi menyapa sambil terbahak-bahak. Hal-hal demikian pelan-pelan dihilangkan dan wajib ditiadakan.


Di masa sekarang, budaya salaman sendiri menjadi suatu hal yang menakutkan bagi semua orang. Saat ini berjabatan tangan mulai dihindari karena diyakini bisa menularkan virus corona. Ketika budaya salaman dengan berjabatan tangan dan merangkul itu dihilangkan karena alasan kesehatan, pola komunikasi santun pun ikut luntur dengan sendirinya. Ketika semua diberi jarak, ada rasa anti-sosial yang terlihat. Memberi jarak salaman sama halnya dengan tak memberi salam. Dengan kata lain, menolak berjabatan tangan atau merangkul sama artinya dengan menolak keakraban. Dari upaya penolakan ini, budaya sopan santun bisa jadi ikut “dinodai.”

Budaya salaman tentunya tak hanya luntur dalam ilustrasi percakapan atau perkenalan biasa. Jika saya masuk dalam kelompok tertentu, tentu hal pertama yang saya dapatkan sebagai ungkapan penerimaan adalah salaman. Di sana, saya tak hanya diterima sebagai sebuah anggota baru dalam kelompok tersebut, tetapi juga ada nilai pendidikan sopan santun yang saya diterima. Edukasi kesantunan ini kemudian bisa menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk meneruskan hal yang kepada orang lain.

Di lingkup hidup keagamaan, budaya salaman juga hampir tak lagi diminati. Saat sesi tertentu dalam Perayaan Ekaristi, umat Kristiani yang semulanya merangkul dan berjabatan tangan, kini semuanya diganti dengan senyuman. Hal ini membuat karakter solidaritas sebagai bagian dari kesatuan Gereja ditangguhkan untuk sementara. Orang asing dalam Gereja pun bisa jadi muncul hanya karena kebiasaan salaman ini diberi jarak. Mengenai ini, Gereja tentunya memiliki pedomaan khusus terkait tata gerak liturgi saat menyampaikan salam damai. Dalam Dokumen Konstitusi Suci Sacrosanctum Concillium budaya salaman dilestarikan dengan pembiasaan mengulurkan tangan. Kekuatan-kekuatan bunyi dokumen ini, hemat saya tetap dipenjara oleh protokol penanganan Covid-19, yakni menjaga jarak.

Lalu apa yang bisa dibuat terkait pelestarian budaya salaman ini? Hemat saya, pendidikan budaya salaman melalui literasi mampu menyadarkan setiap orang mengenai pentingnya salaman. Karakter kesenatunan ini sejatinya perlu dijaga agar tak luntur hanya karena munculnya pandemi Covid-19. Dalam budaya literasi, seseorang bisa membagikan cara-cara bersalaman, nilai-nilai positif dari kebiasaan salaman, dan berusaha memberi edukasi terkait masalah-malsalah yang muncul ketika budaya salaman ini dihilangkan. Budaya literasi saat menjadi salah satu sarana potensial bagaimana pesan dan pendidikan tetap disalurkan di masa pandemi Covid-19.

 

 

 

 

Gerimis

 "Gerimis Januari" Oleh. Mario Valentinus Tanik Gemercik kelabu, redup berbisik.  Layu dan basah hingga menyelimuti daksa. Rayuan...